
Dapatkan Segera Buku-Buku nya....!!
HENDONISME vs FANATISME :
Kata Daisy….“Aku sering mabuk waktu clubbing. Nggak ada batasan untuk minum alcohol di club. Nggak jarang aku jadi ngga sadar setelah kebanyakan minum dan nggak tahu siapa yang colak-colek badanku. Aku juga pernah berciuman sama cowok di club,meski itu teman sendiri……….Tapi aku lagi mabuk waktu itu,jadi temenku juga udah bisa memaklumi. (Hal.20 Tuhan di Dunia Gemerlap ku.).
Akan tetapi, Alifa memandang kaum remaja saat ini sudah jauh dari garis-garis yang disyariatkan agama. Kata Alifa……” Remaja saat ini sudah banyak yang terbawa arus modernisasi. Kental dengan nuansa hedonisme, tidak berdasarkan syariat, dibutakan dengan budaya asing. Pokoknya mereka bilang semua itu yang penting gaul, padahal tidak sesuai syariat”. (Hal.30. Sepotong Kebenaran Milik Alifa).
Dalam kisah “TUHAN DI DUGEM KU” mengangkat kisah tentang seorang penyiar radio di Yogya yang cukup terkenal (DAISY), yang dengan enaknya memaklumkan sifat “hedon”nya dengan prinsip bahwa dia melakukan semuanya itu tidak merugikan orang lain, dan tidak melakukan korupsi “waktu” di tempat kerjanya, Daisy terkenal diantara rekan-rekan sekerjanya sebagai seorang yang workaholic, bekerja dengan all out sampai tuntas semua tugas yang menjadi kewajibannya, dan Daisy memang seorang professional sejati dalam pekerjaannya. Tetapi di luar tugas dan pekerjaannya, Daisy adalah sosok lain yang bermetaformosa menjadi liar dalam pergaulan bebasnya.
Sedangkan dalam “SEPOTONG KEBENARAN MILIK ALIFA” menggambarkan seorang perempuan muda yang datang dari kampung untuk meraih cita-citanya di Perguruan Tinggi Negeri yang bergengsi di Yogya, tetapi pada akhir semester ke II nya memperoleh pencerahan dalam agama, sehingga rela membalik lembaran jalan hidupnya yang terlihat “cerah” untuk berbalik menuju sifat keagamaan yang puritan dan tekstual….”tetapi ketika dia sampai di kampus dan bertemu dengan sebuah “PAHAM” yang akhirnya mampu mengubah “KEYAKINANNYA”, maka kuliah tak lagi memiliki nilai dan arti bagi masa depannya (Hal.35 Sepotong Kebenaran Milik Alifa).
Alifa adalah sesosok yang mengambil peran dalam simbol keagamaannya yang dengan jelas menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa disini ada kebenaran dan Tuhan, yang Alifa dan teman-temannya mewujudkan dalam tapak langkah mereka yang terlihat dari cara berpakaian dengan cadar dan kain hitam hampir menutupi seluruh anggota tubuhnya kecuali mata. Kebenaran dan Tuhan ditampakkan dalam cara mereka berkeyakinan, merupakan sebuah hal yang absolut karena ada “tertulis” (teks). Teks telah membawa Alifa dalam pembenaran yang monokultur, satu sistim, satu ide tentang Tuhan, bahwa cara yang benar untuk menuju Tuhan adalah cara mereka, sedangkan orang lain diluar mereka adalah ”LIYAN” atau THE OTHERS”, yang tidak layak untuk menapak jalan menuju Tuhan.
Cara yang dijalankan oleh ”liyan” sebagai contoh cara Daisy mencapai Tuhan, menurut Alifa adalah cara yang salah , dan pasti Tuhan tidak mau dan murka.!!!!!, hanya satu jalan, yaitu jalan dan cara yang ditempuh oleh Alifa dan teman-temannya.
Daisy dan gengnya, serta Alifa dan teman-temannya adalah potret anak manusia yang hidup dalam keyakinannya, dan menciptakan generasi yang bersekat-sekat dan sekaligus menciptakan jarak serta pemahaman bahwa disana ada ”Mereka” atau ”Kita” yang berbeda, sehingga kalau tidak sama dengan ”Kita” artinya bukan ”Orang Kita” dan tidak layak untuk bersama-sama dengan ”Kita”
Dalam hidup Dugem Daisy , Tuhan masih menjadi titik ukur tertingginya,....”tapi aku kan tidak mengkhianati Tuhan, apalagi membunuh orang lain. Lagipula, aku takut dengan hukuman di akhirat. Tuhan memang tempat pelarianku, kalau aku udah nggak tahu jalan keluar masalah.........Aku nggak mungkin mengkhianati Tuhan, karena aku menganggap-Nya seperti sahabat. Biasa bukan, diantara sahabat yang lama nggak ketemu akan muncul rasa rindu dan kangen. Aku juga merasakan begitu sama Tuhan..... (Hal.54 dan 55 Tuhan di Dunia Gemerlap ku)
Kisah hidup dua anak manusia yang berbeda pandangan hidup ini terangkat dari kehidupan keseharian di kota Yogya, adalah sarana mereka untuk menjadi manusia seutuhnya dalam arti dan konstruksi dalam pemahaman mereka .
Pencarian tujuan akhir selalu terkendala oleh kefanatismean yang melahirkan sikap-sikap eksklusif dan intoleran terhadap perbedaan sekecil apapun perbedaan itu, justru sifat fanatisme kalau dipupuk dan dirawat maka bukan mustahil akan muncul sikap radikal dalam melihat suatu yang tidak cocok dengan pandangan hidupnya.
Akhir kata..Wikimuers..........buku ini wajib hukumnya untuk dibaca bagi mereka yang merindukan pencerahan dalam memandang semangat hedonisme dan fanatisme, yang dengan sangat apiknya disajikan oleh ”Gilang Desti Parahita (Tuhan di Dunia Gemerlap ku) dan Ahmad Shidqi (Sepotong Kebenaran Milik Alifa).
@uncit

blog na mantab...apalagi soal dugem na...whhahha...ajeeeep....
BalasHapus